Ketua Kadin Jatim sebut kompetensi lewat sertifikasi bisa jadi bekal hadapi tantangan tenaga kerja

SURYA.co.id | SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim menggelar penyerahan simbolik sertifikat kompetensi program Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) 2022 di Surabaya, Kamis (22/12/2022).

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan bahwa pada tahun 2031, Indonesia dihadapkan pada bonus demografi, di mana usia produktif di Indonesia mencapai  231 juta jiwa.Potensi ini jika tidak garap akan bisa jadi malapetaka.

"Di tengah persaingan sumber daya manusia (SDM) dan tenaga kerja yang ketat, kompetensi dan daya saing sangat diperlukan," kata Adik.

Karena itu, sebagai bagian dari organisasi industri yang membutuhkan SDM sebagai tenaga kerja, Kadin memberi fasilitas untuk peningkatan kemampuan dan kompetensi melalui sertifikasi tersebut.

Mengingat kondisi lulusan SMK dan Perguruan Tinggi saat ini, belum benar-benar memenuhi kebutuhan industri.

Kurikulum SMK masih belum sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

"Ini yang harus dipikirkan bersama. Bahkan lulusan pendidikan vokasi di Perguruan Tinggi juga masih kursus terkait dengan sertifikat kompetensi dan harus mengeluarkan biaya lagi," jelas Adik.

Wakil Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi, Miftakul Aziz membenarkan tentang hal tersebut.

"Bahwa tantangan tenaga kerja Indonesia sampai saat ini ada dua. Pertama tingkat produktivitas yang masih rendah sehingga kalah bersaing dengan negara lain. Kedua daya saing yang juga masih rendah," jelasnya.

Apalagi saat ini, SDM dan tenaga kerja Indonesia juga dihadapkan pada sejumlah tantangan lain.

"Kami optimistis bahwa kompetensi menjadi jawaban dari itu semua, kami meyakini, mustahil ada produktivitas tanpa adanya kompetensi. Dan mustahil ada daya saing tanpa adanya produktivitas. Maka kompetensi menjadi prasyarat utama kita menjadi Indonesia maju, menuju Indonesia emas 2045 nanti," beber Miftakul.

Dia berharap kolaborasi antar stakeholder terkait akan terus ditingkatkan demi peningkatan kualitas SDM dan tenaga kerja Indonesia.

Miftakul menegaskan kolaborasi yang di contohkan Kadin Jatim harus terus dimaksimalkan.

Kolaborasi dari sisi Kadin sebagai representasi industri, Lembaga Sertifikasi Profesi sebagai penanggungjawab penjaminan mutu SDM, juga lembaga pelatihan dan pendidikan sekaligus para pelaku usaha.

Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengungkapkan, berdasarkan Perpres nomor 68 tahun 2022 tentang revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi sebagai bentuk implementasi dari program kerja Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Peningkatan SDM Kadin Jatim.

"Maka Kadin Institute memberikan pelatihan terhadap tenaga kerja sesuai kompetensi teknis di bidangnya yang ada di dunia industri," kata Nurul dalam kesempatan yang sama.

Kadin Institute bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi pihak ketiga di Jawa Timur (Jatim), untuk memastikan hasil dari pelatihan mencapai kompetensi sesuai bidang dan tentu sesuai dengan kebutuhan industry agar link and super mach.

"Pelatihan ini tidak hanya diselenggarakan di jawa Timur tetapi juga di berbagai daerah dan provinsi lain yang nantinya akan kita perluas hingga seluruh Indonesia," jelas Nurul.

Hingga saat ini, Kadin Institute telah bekerjasama dengan 45 LSP dengan 17 program pelatihan.

Adapun jumlah LSP jatim mendapat subsidi dari BNSP melalui PSKK tahun 2022, mencapai 22 LSP, masing-masing LSP  ada yang mendapatkan 5 paket hingga 50 paket.

"Hari ini hadir 28 LSP beserta perwakilan dari peserta untuk menerima secara simbolis sertifikat kompetensi kerja. Harapan kami, LSP yang belum mendapatkan subsidi ini ditahun depan akan mendapatkannya," pungkas Nurul.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti, yang juga mantan Ketua Kadin Jatim, sebelum Adik Dwi Putranto.

La Nyalla mengatakan bahwa kompetisi global memang memaksa kompetensi Sumber Daya Manusia di pasar tenaga kerja menjadi syarat utama.

"Karena itu ide besar atau muara dari program seperti ini harus menjadi satu goals, yaitu Indonesia Kompeten," ujar La Nyala.