Ingin belajar dan bekerja di Jerman, ribuan siswa dan mahasiswa Gresik ikuti sosialisasi program vokasi Kadin

SURABAYA, Minggu (2/4/2023): Keinginan siswa SMK, SMA dan mahasiswa di seluruh Gresik untuk bisa belajar dan bekerja di luar negeri dinilai cukup tinggi. Hal ini terlihat dari ansutiasme mereka saat mengikuti kegiatan Kuliah Umum Vokasi, Kewirausahaan & Sosialisai Kuliah Gratis dan Bekerja di Jerman Bersama SMK & SMA Se Kabupaten Gresik di GOR Wahana Ekspresi Poesponegoro Gresik, Sabtu (1/4/2023). 

Acara yang digelar oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gresik, Kadin Provinsi Jawa Timur,  Pemerintah Kabupaten Gresik dan bekerjasama dengan Habibie Education Youth (HEY) tersebut diikuti sekitar 3.500 peserta, mulai dari siswa SMA, SMK dan mahasiswa Perguruan Tinggi, guru dan dosen di seluruh kabupaten Gresik.

"Ini adalah peluang bagi siswa dan mahasiwa untuk bisa berkarier dan belajar di luar negeri. Kadin bersama HEY akan berusaha menfasilitasi. Sementara calon mahasiswa yang ingin belajar dan bekerja di Jerman juga harus mempersiapkan keahlian bahasa mereka," ujar Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto di Surabaya, Sabtu (1/4/2023) malam. 

Selain mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam rangka menghadapi bonus demografi di tahun 2045, langkah ini juga untuk mengurangi jumlah pengangguran dalam negeri. Apalagi menurut data yang ada, SMK adalah lembaga pendidikan yang selama ini telah mencetak pengangguran  paling tinggi dibanding lembaga pendidikan lain.

"Harapan kami, program yang kami luncurkan ini akan menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi angka pengangguran. Dan bonus demogrrafi ini harus betul-betul dimanfaatkan," ujarnya. 

Pada kesempatam tersebut, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memberikan apresiasi dan memuji Kadin yang memiliki beragam program untuk meningkatkan SDM Indonesia. "Saya secara pribadi seandainya masih seusia kalian, pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini. Karena kesuksesan itu tidak akan datang begitu saja. Kesuksesan butuh diperjuangkan. Kesuksesan kita raih dari konsistensi melakukan kebiasaan-kebiasaan baik,” ungkap Gus Yani, panggilan akrab Fandi Akhmad Yani.

Apalagi Indonesia akan mendapat bonus demografi di tahun 2045. Hal ini bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi musibah jika tidak disiapkan dengan baik. 

"Kita harus mulai berpikir, generasi muda seperti apa yang kita siapkan?. Harapannya tentu saja adalah generasi muda yang produktif dan berkualitas. Hari ini, saya bisa berdiri disini merupakan hasil dari kerja keras pendahulu-pendahulu kita. Oleh karenanya saya memiliki tanggung jawab untuk berjuang demi generasi yang akan datang. Salah satunya lewat kegiatan sosialisasi ini,” tegas dia. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah, bahwa program kuliah dan kerja di Jeman akan menjadi solusi dalam mengatasi angka pengangguran di Gresik, disamping mewujudkan SDM cerdas. 

“Angka pengangguran Gresik masih mencapai 8 persen. Ini lebih tinggi sedikit dibandikan Provinsi Jawa Timur yang saat ini di angka 7,84 persen. Meskipun demikian, kita dari Pemkab Gresik tetap berupaya dalam menangani hal tersebut. Salah satunya dengan program Nawa Karsa Gresik Cerdas," tandasnya. 

Dengan adanya program kuliah dan kerja di Jerman, lanjutnya, dapat meningkatkan kemampuan akademik yang dimiliki oleh anak Gresik. Maka, Bu Min, panggilan akrab Aminatun Habibah mendorong para ratusan siswa SMA sederajat yang hadir saat itu, untuk berlomba-lomba mengikuti program tersebut. 

“Ini menjadi kesempatan dalam menempuh pendidikan di Eropa yang memang dipusatkan di Jerman. Nanti teknis sekolahnya mirip seperti SMK, tapi lebih intens. Dengan dua hari teori dan praktek tiga hari di perusahaan sekitarnya. Bahkan kalian juga akan dibayar," ujarnya. 

Program tersebut i dapat berlangsung karena kondisi Jerman yang kekurangan tenaga kerja. Anak muda produktif hanya sebanyak 28 persen dari total masyarakat Jerman. Sehingga membutuhkan tenaga kerja potensial dari luar negeri. Saat ini telah terbuka sekitar 20.000 kesempatan untuk bekerja di sana. 

Ketua Kadin Gresik, M. Choirul Rizal mengatakan pihaknya akan selalu memberikan support terbaik dalam meningkatkan SDM Gresik. Terutama dalam mengurangi angka pengangguran yang ada. “Gresik kota industri, tapi pengangguran tetap tinggi. Maka ini juga menjadi langkah solusi dalam mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Gresik.” ucapnya. 

Selanjutnya, pelatihan untuk persiapan program tersebut akan digelar Kadin Gresik setelah lebaran Idul Fitri. 

CEO Habibie Education Youth, Nana Saragih yang telah malang melintang di Indonesia, memuji Bupati dan Wabup Gresik yang mensupport program kuliah kerja ini. 

“Kalian punya Bupati, Wabup, dan Ketua Kadin yang hebat. Karena saya sudah keliling Indonesia dan tidak semua pemerintah daerahnya mau turun tangan dalam hal ini,” ujar perempuan yang juga menjabat sebagai Koordinator Regional Sumatra Kadin Indonesia.

Lebih lanjut Nana Saragih mengatakan, program kuliah gratis dan bekerja di Jerman ini adalah kerjasama antara pengusaha dengan pemerintah Jerman atau Government to Business.

"Kampus, tempat tinggal dan pekerjaan, Habibie yang akan carikan semua. Yang harus dipersiapkan hanya harus belajar bahasa Jerman selama 6 bulan di Kadin Institute untuk menyelesaikan 36 bab materi dalam bahasa Jerman hingga mereka miliki sertifikat keahlian bahasa Jerman, Goethe," kata Nana.

Persyaratan memang tidak sama dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke Jerman yang tidak harus memiliki sertifikat keahlian bahasa. "Kalau TKI tidak perlu sertifikat bahasa, tetapi kalau ingin kuliah maka pasti dibutuhkan. Misalnya, jika mau kuliah ke Amerika ya harus punya Toefl. Maka jika mau belajar ke Jerman ya harus punya Goethe," pungkasnya.(*)